Kamis, 03 Mei 2012

kepribadian (ANTROPOLOGI)


Antropologi sosial-budaya atau lebih sering disebut antropologi budaya berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan etnologi. Ilmu ini mempelajari tingkah laku manusia, baik itu tingkah laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka.
Pada manusia, tingkah laku ini tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang mereka lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya secara disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya.
Inilah yang oleh para ahli antropologi disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan dari kelompok -kelompok manusia, baik itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang menjadi objek spesial dari penelitian-penelitian antropologi budaya. Dalam perkembangannya antropologi budaya ini memecah lagi kedalam bentuk bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang kajian yang dipelajari atau diteliti.
Antropologi hukum yang mempelajari bentuk-bentuk hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau antropologi ekonomi yang mempelajari gejala -gejala serta bentuk-bentuk perekonomian pada kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari sekian banyak bentuk spesialasi dalam antropologi budaya.
Maka kemudian, apa yang dimaksud dengan kepribadian atau personality itu? Kepribadian adalah susunan akal dan jiwa yang menentukan perbedaan tingkah laku dari tiap-tiap individu manusia itu (Koentjaraningrat, 2002: 102). Disini, peran antropologi budaya adalah meneliti tingkah laku yang dihasilkan dari suatu kepribadian. Kepribadian merupakan wujud dari tingkah laku seorang manusia. Budaya tersebut akhirnya muncul dari sekumpulan kepribadian juga. Setiap individu pasti mempunyai kepribadian yang berbeda satu dengan yang lain.
Kelompok-kelompok masyarakat memiliki visi yang sama namun orang-orang di dalamnya memiliki kepribadian yang berbeda. Mereka dapat menyatukan perbedaan menjadi masyarakat yang bersatu dan mempunyai suatu kebudayaan tersendiri.
Kelompok-kelompok masyarakat tersebut membentuk suatu sistem pranata sosial yang mempunyai aturan-aturan tersendiri yang telah disepakati bersama. Di dalam pranata sosial juga terdapat pola-pola yang bisa mempengaruhi kepribadian. Pola-pola itu mempengaruhi dalam bentuk akulturasi dan asimilasi.
Unsur-Unsur Kepribadian
1. Pengetahuan
Unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Dalam lingkungan individu itu ada bermacam-macam hal yang dialaminya melalui penerimaan pancaindera-nya serta alat penerima atau reseptor organismenya yang lain, sebagai getaran eter (cahaya dan warna), getaran akustik (suara), bau, rasa, sentuhan, tekanan mekanikal (berat-ringan), tekanan termikal (panas-dingin) dan sebagainya, yang masuk ke dalam sel-sel tertentu di bagian-bagian tertentu dari otaknya. Di sana berbagai proses fisik, fisiologi, dan psikologi terjadi, yang menyebabkan berbagai macam getaran tekanan tadi, kemudian diolah menjadi suatu susunan yang dipancarkan atau diproyeksikan oleh individu tersebut menjadi suatu penggambaran tentang lingkungan tadi. Seluruh proses akal yang sadar (conscious) tadi, dalam ilmu psikologi disebut “persepsi”.
2. Perasaan
Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam perasaan. Kalau orang pada suatu hari yang luar biasa panasnya melihat papan gambar reklame minuman Green Spot berwarna yang tampak segar dan nikmat, maka persepsi itu menyebabkan seolah-olah terbayang di mukanya suatu penggambaran segelas Green Spot yang dingin dan penggambaran itu dihubungkan oleh akalnya dengan penggambaran lain yang timbul kembali sebagai kenangan dalam kesadarannya, menjadi suatu apersepsi1 tentang dirinya sendiri yang tengah menikmati segelas Green Spot dingin, manis, dan menyegarkan pada waktu hari sedang panas-panasnya yang seakan-akan demikian realistiknya sehingga keluarlah air liurnya. Apersepsi seorang individu yang menggambarkan diri sendiri sedang menikmati segelas Green Spot dingin tadi menimbulkan dalam kesadarannya suatu perasaan yang positif, yaitu perasaan nikmat dan perasaan nikmat itu sampai nyata mengeluarkan air liur.
Sebaliknya, kita dapat juga menggambarkan adanya seorang individu yang melihat sesuatu hal yang buruk atau mendengar suara yang tidak menyenangkan, mencium bau busuk, dan sebagainya. Persepsi-persepsi seperti itu dapat menimbulkan dalam kesadaran perasaan yang negatif, karena dalam kesadaran terkenang lagi misalnya bagaimana kita menjadi muak karena sepotong ikan yang sudah busuk yang kita alami di masa lampau. Apersepsi tersebut mungkin dapat menyebabkan kita menjadi benar-benar merasa muak apabila kita mencium lagi bau ikan busuk.
3. Dorongan Naluri
Kesadaran manusia menurut para ahli psikologi juga mengandung berbagai perasaan lain yang tidak ditimbulkan karena pengaruh pengetahuannya, melainkan karena sudah terkandung dalam organismenya, dan khususnya dalam gen-nya sebagai naluri. Kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia itu, oleh beberapa ahli psikologi disebut “dorongan” (drive).
Ada tujuh macam dorongan naluri, yaitu :
  1. Dorongan untuk mempertahankan hidup.
  2. Dorongan seks.
  3. Dorongan untuk usaha mencari makan.
  4. Dorongan untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama manusia.
  5. Dorongan untuk meniru tingkah laku sesamanya.
  6. Dorongan untuk berbakti.
  7. Dorongan akan keindahan, dalam arti keindahan bentuk, warna, suara, atau gerak.
Materi dari Unsur-Unsur Kepribadian
Seorang ahli etnopsikologi, A.F.C. Wallace, pernah membuat suatu kerangka dimana terdaftar secara sistematikal seluruh materi yang menjadi objek dan sasaran unsur-unsur kepribadian manusia. Kerangka itu menyebut tiga hal yang pada tahap pertama merupakan isi kepribadian pokok, yaitu :
  1. Aneka warna kebutuhan organik diri sendiri, aneka warna kebutuhan serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia yang lain daripada diri sendiri. Sedangkan kebutuhan tadi dapat dipenuhi atau tidak dipenuhi oleh individu yang bersangkutan, sehingga memuaskan dan bernilai positif baginya, atau tidak memuaskan dan bernilai negatif.
  2. Aneka warna hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri atau identitas aku, baik aspek fisik maupun psikologinya, dan segala hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu mengenai bermacam-macam kategori manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, benda, zat, kekuatan, dan gejala alam, baik yang nyata maupun yang gaib dalam lingkungan sekelilingnya.
  3. Berbagai macam cara untuk memenuhi. Memperkuat, berhubungan, mendapatkan, atau mempergunakan aneka warna kebutuhan dari hal tersebut di atas, sehingga tercapai keadaan memuaskan dalam kesadaran individu bersangkutan. Pelaksanaan berbagai macam cara dan jalan itu terwujud dalam aktivitas dari seorang individu.
Aneka Warna Kepribadian
Aneka warna materi yang menjadi isi dan sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak, serta keinginan kepribadian serta perbedaan kualitas hubungan antara berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu, menyebabkan adanya beraneka macam struktur kepribadian pada setiap manusia yang hidup di muka bumi, dan menyebabkan bahwa kepribadian tiap individu itu unik, berbeda dengan kepribadian individu yang lain.
Ilmu antropologi, dan juga ilmu-ilmu sosial lainnya seperti sosiologi, ilmu ekonomi, ilmu politik, dan lain-lain, tidak mempelajari individu. Ilmu-ilmu itu mempelajari seluruh pengetahuan, gagasan, dan konsep yang umum hidup dalam masyarakat — artinya pengetahuan, gagasan, dan konsep yang dianut oleh sebagian besar warga sesuatu masyarakat, yang biasanya disebut “adat istiadat” (customs). Ilmu-ilmu itu juga mempelajari tingkah laku umum, yaitu tingkah laku yang menjadi pola bagi sebagian besar warga sesuatu masyarakat yang diatur oleh adat istiadat tadi. Seluruh kompleks tingkah laku umum berwujud pola-pola tindakan yang saling berkaitan satu dengan yang lain itu disebut sistem sosial (social system).

Peran Orang Tua dan Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Anak Usia Dini




Telah banyak kajian-kajian yang mengkaji mengenai  pengaruh peran orang tua terhadap perkembangan anak usia dini. Peran orang tua dalam hal mendidik anak-anak sangatlah berpengaruh,hal ini bisa diamati dengan adanya kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki oleh anak usia dini dalam kehidupan sehari-hari seperti cara berbicara,cara bergaul dan cara bermain dengan teman sebayanya. Pola asuh yang dilakukan oleho orangtua sangatlah berbeda-beda dan pengruhnya pun juga sangat berbeda-beda ,hal ini sesuai dengan pernyataan Dorothy Law Nolte yaitu:
“Jika anak dibesarkan dengan celaan,ia akan belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ,ia akan belajar berkelahi. Jika anak dbesarkan dengan cemoohan ,ia akan belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,ia akan menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi ,ia akan belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian(motivasi),ia akan belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakukan,ia akan belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman ,ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan,ia akan belajar menyenangi diri. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatn ,ia belajar menemkan cinta di dalam kehidupan”
            Pernyataan Dorothy tersebut menunjukkan bahwa lingkungan terutama lingkungan keluarga akan membentuk sikap dan perilaku anak. Setiap orang tua tentu saja menginginkan hal yang terbaik bagi anak. Namun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal yang tidak diinginkan seperti adanya pola asuh yang kurang sesuai. Pola asuh yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak sangatlah berpengaruh dengan keperibadian serta perkembangan anak usia dini meliputi fisik,mental,moral,maupun spiritual anak usia dini tersebut,sebelum mengkaji mengenai pengaruh peran orang tua terhadap perkembangan anak usia dini,kita klasifikasikan terlebih dahulu mengenai pola asuh orang tua kepada anaknya. Pola asuh tersebut antara lain :
a.       Otoriter     : pola ini menggunakan pendekatan yang memaksakan kehendak orang tua kepada anak. Anak harus menurut orang tua. Kemauan orang tua harus dituruti,anak tidak boleh mengeluarkan pendapat.
b.      Permisif     : Orang tua membolehkan anaknya berbuat apa saja,pada pola asuh ini anak cenderung dimanjakan oleh orang tua.
c.       Mandiri     : orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya dengan pertimbangan faktor kepentingan dan kebutuhan.
Melihat mengenai pola asuh yang diberikan oleh orang tua yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda juga memiliki dampak yang berbeda-beda pula. Dampak tersebut antara lain sebagai berikut :
Otoriter
Anak menjadi penakut,pencemas,menarik diri dari pergaulan,kurang adaptif,kurang tujuan,mudah curiga pada orang lain dan mudah stres.
Permisif
Anak menjadi agresif,tidak patuh pada orangtua,manja,sok kuasa,kurang mampu mengontrol diri,dan kurang intens mengikuti pelajaran disekolah.
Mandiri
Anak mudah mandiri,mempunyai kontrol diri,percaya diri,dapat mudah beradaptasi,mampu menghadapi stres,patuh,berorientasi pada kemajuan.

Dengan melihat kecenderungan tersebut hendaknya dalam mendidik anak haruslah diperhatikan dengan baik. Karena proses mendidik anak dengan baik akan beorientasi pula pada hasil yang baik pula. Sebaliknya jika mendidik anak dengan proses yang buruk akan memiliki hasil yang buruk pula. Pola asuh yang digunakan oleh orang tua dalam kehidupan sehari-hari dapat pula diajarkan kepada anak dengan cara-cara sederhana seperti berikut ini :
a.       Berbagi makanan dengan teman. Dengan cara ini anak akan belajar bagaiman ia akan membantu dan saling berbagi dengan orang lain.
b.      Menabung . dengan cara ini setidaknya anak akan belajar berhemat ,hal ini akan dibawa kelak ia akan menjadi orang dewasa.
c.       Mengajak anak untuk selalu beribadah. Dengan mengajak anak untuk beribadah,maka kecerdasan spiritualnya akan tertanam sejak dini.
d.      Selalu mengenalkan anak dengan orang-orang terdekat atau saudara(tetangga). Dengan cara ini anak akan belajar bahwa ia tidak hidup secara individual melainkan hidup bersama dengan orang lain.
e.       Memberi motivasi anak melalui dongeng. Dengan cara memberi cerita kepada anak dengan cerita yang membangkitkan motivasi,anak akan belajar bagaimana ia akan menemukan jati diri dan semangat untuk berbuat baik. Contoh dongeng mengenai 3 ekor katak,kura –kura dan kelinci serta cerita yang lainnya.
Kasus-kasus yang berada dalam kenyataan sehari-hari sangatlah banyak,dalam artikel ini penulis memberi contoh kasus mengenai pola asuh orang tua yang berupa perlakuan otoriter,permisif dan mandiri.
a.       Otoriter
Kasus mengenai pola asuh orang tua yang otoriter pada keluarga Pak S(Inisial) ,Pak S dan Bu S sering memperlakukan anaknya secara otoriter. Anak Pak S sering diperlakukan secara paksa untuk melakukan suatu hal misalnya dipaksa untuk ikut berjualan saat anak sedang ingin istirahat,serta sering Pak S dan Bu S berbuat kasar terhadap anak. Sehingga anak dari Pak S dan Bu S sulit sekali untuk bergaul dengan teman sebayanya dan penakut.
b.      Permisif
Pola asuh orang tua yang permisif pun tidak baik untuk anak. Kasus ini dilakukan oleh Keluarga Pak P(inisial),Pak P dan Bu P sering memanjakan anaknya misalnya anak sering dituruti kemauannya dan juga anak dari Pak P dan Bu P sering diperbolehkan untuk membeli apapun meski belum tahu manfaatnya. Akibat dari hal ini anak dari Pak P menjadi manja,menentang orang tua dan cenderung agresif.
c.       Mandiri
Pola asuh keluarga Pak G(inisial),selalu mengajarkan tentang kemandirian seperti menabung,belajar,dan membiasakan diri dengan hal-hal positif seperti beribadah maupun membuang sampah pada tempatnya. Dari hal ini anak Pak G menjadi anak yang mandiri dan terlihat lebih cerdas dari anak-anak sebayanya.
































Kamis, 12 April 2012

SETELAH SUKSES LALU APA?

“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya…” (QS. 6 : 132).

Selamat! Anda telah selesai membaca semua tulisan ini. Mudah-mudahan tulisan-tulisan tentang "Rahasia Meraih Sukses Tanpa Henti" ini memberikan pandangan baru bagi Anda. Artikel ini hanya kumpulan kata-kata. Ia menjadi berguna jika Anda mencoba melakukan apa yang disarankan dalam artikel ini. Letak kesuksesan Anda bukan terletak pada pengetahuan yang Anda dapatkan dari sebuah tulisan, tapi pada tindakan yang Anda lakukan.

Mudah-mudahan hati Anda tergerak untuk memandang sukses dengan perspektif ‘baru’. Sukses bukanlah suatu kondisi tanpa makna. Bukan pula kekayaan, ketenaran atau kedudukan yang tinggi; seperti yang selama ini dipandang oleh banyak orang. Sukses adalah :

1. Hidup yang seimbang;
2. Memberi manfaat bagi orang lain;
3. Proses mencapai cita-cita mulia;
4. Menikmati kemenangan-kemenangan; dan
5. ‘Akhir yang baik’

Inilah makna sukses yang benar. Makna yang selama ini terpendam oleh ‘kuburan’ budaya materialisme yang sedang berjaya saat ini. Makna sukses yang menjadi rahasia ‘orang-orang besar’, seperti para nabi, pemimpin, dan pahlawan, yang nama mereka dikagumi sepanjang sejarah manusia. Rahasia tersebut kini ada di tangan Anda. Terserah Anda. Apakah Anda mau menggunakan rahasia sukses itu atau tidak.

Bagi sementara orang, sukses yang berarti kekayaan, ketenaran dan kedudukan sudah mendarah daging dalam jiwa mereka. Mungkin sulit bagi mereka untuk memahami sukses dengan makna ‘baru’. Namun Anda bukanlah mereka. Anda adalah orang yang ingin memperoleh sukses sejati, bukan sukses semu. Anda adalah pelopor yang berani tampil beda di tengah-tengah arus besar budaya materialisme yang memandang sukses dengan pandangan semu.

Mantapkan hati Anda untuk menjalani sukses dengan makna ‘baru’, seperti yang telah Anda baca dalam buku ini. Jangan tergoda untuk mengejar kesuksesan semu: kaya, tenar atau berkedudukan. Kesuksesan tersebut hanya akan membuat Anda menjadi gelisah dan tidak tenteram. Kalau pun Anda hari ini merasa tenteram dan senang dengan kesuksesan semu tersebut, maka kelak pasti Anda akan menyesal. Sebab berada pada kesuksesan semu ibarat berada di lautan fatamorgana. Yang hanya membuat Anda semakin haus dan haus dengan ketenteraman dan kebahagiaan.

Kini, palingkan orientasi hidup Anda untuk mencapai kesuksesan sejati. Kesuksesan yang lebih mudah Anda peroleh daripada kesuksesan semu.

Kini, kesuksesan bukanlah milik orang-orang tertentu saja. Kesuksesan tidak lagi menjadi kata elit dan eksklusif. Ia sekarang menjadi milik Anda. Milik semua orang. Sebab ia tidak lagi berupa tujuan yang sulit diperoleh, tapi menjadi proses yang mudah dijalani. Kuncinya hanya satu; kemauan dan kemauan untuk menjalaninya.

Capailah kesuksesan sejati dengan melakukan lima makna sukses: hidup yang seimbang; memberi manfaat bagi orang lain; konsisten dengan cita-cita mulia; menikmati kemenangan-kemenangan; dan ‘akhir yang baik’, secara simultan (bersamaan) dari hari ke hari. Jika Anda lemah dalam salah satu bagian, perkuatlah segera. Kelima bagian dari makna sukses tersebut sebenarnya saling berhubungan satu sama lain. Kelemahan pada satu bagian akan memperlemah bagian yang lain. Sebaliknya, kekuatan pada satu bagian akan memperkuat bagian yang lain.

Upayakan agar hidup Anda selalu berada pada kesuksesan sejati. Yakinlah, bahwa Tuhan akan membantu Anda memperoleh sukses jika Anda bersungguh-sungguh melakukannya. Semoga sukses sejati selalu bersama Anda! (selesai)

Sumber : Eramuslim.com

Senin, 12 Desember 2011

Wong Fei Hung Ternyata Umat Islam

Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China . Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong , Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.

Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.

Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch'in yang korup dan penindas. Dinasti Ch'in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch'in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch'in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea ). Jika saja pemerintah Ch'in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch'in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus. Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri. Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad'afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya. Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amiin.[rasapas.wordpress.com]

Senin, 14 November 2011

KARATE SHITORYU

Pendiri (Ryuso) Karate-do Shito-ryu, Kenwa Mabuni lahir pada tanggal 19 November 1889 di Shuri, Okinawa. Dia adalah generasi ke – 17 dari salah satu kstaria kerajaan Ryukyu paling berani, Kenio Oshiro. Kenwa Mabuni sendiri adalah anak yang lemah secara fisik, tetapi keluarganya selalu menceritakan padanya cerita tentang leluhurnya yang sangat terkenal, dan dia mulai bermimpi untuk menguasai kontrol atas fisiknya. Pada umur 13 tahun, Kenwa Mabuni diterima sebagai murid di sekolah beladiri yang dipimpin oleh Master Anko Itosu, yang tinggal di Kota Shuri. Kenwa berlatih setiap hari, sekalipun musim badai, dalam 7 tahun dia mempelajari seni beladiri Shuri-karate atau Shuri-te.
 Saat Kenwa berumur 20 tahun, dia mulai belajar seni karate gaya Naha (Naha-karate atau Naha-te) pada Grandmaster Kanryo Higaonna. Akhirnya kedua gaya karate Okinawa ini menjadi dasar gaya Shito-ryu Karate-do yang diciptakan oleh Kenwa Mabuni.

Setelah tamat sekolah menengah atas dan mengikuti pendidikan militer, Kenwa Mabuni menjadi Polisi selama kurang lebih sepuluh tahun. Pekerjaannya mengharuskannya untuk mengunjungi banyak tempat berbeda di Jepang dan membewrikannya kesempatan untuk mempelajari bentuk lain dari Karate-do yang diajarkan oleh Master karate lokal daerah-daerah tersebut. Dia juga mempelajari seni beladiri kuno Ryukan Budo.

Awal abad ke-20 merupakan periode penyebaran karate-do. Tahun 1919, karate dimasukkan sebagai salah satu program sekolah sebagai mata pelajaran terpisah, yang berarti merupakan pengakuan resmi terhadap Karate-do. Tetapi, pendidikan karate-do masih kurang. Pada umumnya, Master-Master Karate memberikan sebagian besar perhatian pada pelatihan tubuh, pergelangan tangan, lengan dan jari-jari, menggunakan Makiwara dan kantong pasir. Tidak ada baju seragam karate seperti yang dikenal sekarang.


Selama tahun-tahun ini, Kenwa Mabuni memulai aktivitasnya mengajarkan karate. Bersama dengan gurunya, dia menciptakan sebuah sekolah Karate-do untuk mempelajari seni berladiri ini. Pada 13 Februari 1918, anak laki-lakinya lahir. Pada tahun yang sama, Kenwa Mabuni mulai mempopulerkan karate-do dan banyak master terkenal membantunya. Dia mengatur pertemuan di rumahnya yang dihadiri oleh Gichin Funakoshi, Oshiro, Chosin Shibana, Shinbun Tokuda, Shimpan Shiroma, Sicho Taokumura dan Hoko Ishikawa. Selain itu pada tahun 1918 dia mendapatkan kehormatan untuk mendemostrasikan karate-do di SMP Okinawa yang dihadiri oleh Pangeran Kuni dan Pangeran Kacho.

Pada tahun 1924, Kaenwa Mabuni menjadi instruktur karate dan mendapat kehormatan untuk mendemonstrasikan karate-do pada Pangeran Titibo.

Pada tahun 1925, Kenwa Mabuni, bersama Master-Master mengatur diselenggarakannya “Klub Karate-do Okinawa” yang membawa impian masa lalunya menjadi nyata dengan membangun dojo latihan permanen. Banyak pemimpin karate-do terkenal, Juhatsu Kyoda, Chojun Miyagi, Choyu Motobu, Chomo Hanashiro, Choju Oshiro, Choshin Chibana, Wu Xian Gui(Go Kenki) = orang yang mengusai Chinese-ken (Seni beladiri China) sebelumnya berlatih di dojo pertama beliau. Kenwa Mabuni dan Chojun Miyagi menjadi instruktur permanen di klub karate sebagai anggota termuda.

Pada masa-masa ini, instruktur mengkonsentrasikan pada pelatihan fisik dan kumite. Saat siswa meminta pada gurunya untuk menjelaskan, guru itu memberikan kesempatan pada siswa tersebut menyerangnya dan menjawab pertanyaan dengan mendemonstrasikan teknik-teknik bertahan (Defense) yang bermacam-macam. Pelatihan diteruskan hanya dengan melatih gerakan yang sama. Semua Master mengajarkan banyak teknik, tetapi metode pelatihan utama adalah sama, yaitu pelatihan dengan prakteknya.

Tahun 1927, adalah tahun yang sangat penting untuk Kenwa Mabuni. Jigoro Kano, pendiri Judo Modern datang ke Okinawa untuk membangun dojo judo baru. Chojun Miyagi dan Kenwa Mabuni mendapat kesempatan untuk mendemonstrasikan pada Jigoro teknik-teknik karate. Kano terinspirasi oleh Karate-do dan menganggapnya Budo ideal dengan teknik bertahan dan menyerang. Tersentuh oleh kata-kata inspirasional ini, Kenwa Mabuni pindah ke Osaka dan mendedikasikan dirinya untuk pengembangan karate-do Shito-ryu di Jepang.

Seperti juga Karate-do yang merupakan seni beladiri original Okinawa, Kenwa menemukan persepsi karate-do saat dia pindah ke Osaka. Di sana tidak ada dojo latihan dan Kenwa mencoba untuk mempopulerkan karate-do di departemen kepolisian dan kuil-kuil Budha. Masyarakat mengalami kesulitan menerima karate-do, terutama Kata dan bahkan sering dikatai “tarian pukulan”. Kenwa Mabuni bekerja siang dan malam, mencoba menemukan cara untuk mempopulerkan karate-do. Dia bahkan mendemonstrasikan Tame Shibari – memecahkan batu bata dan papan, menunjukkan kepada masyarakat sebuah kekuatan seni beladiri baru. Karate-do kadang-kadang digunakan dalam perkelahian, yang bertentangan dengan ideologi karate dan reputasinya. Polisi juga berusaha menentang karate, karena ada kasus dimana kriminil terluka saat penangkapan.

Mengesampingkan semua kesulitan, Kenwa Mabuni tetap bertahan di jalan yang dipilihnya. Usahanya yang luar biasa keras akhirnya membuahkan hasil, sebuah organisasi yang bernama Dai-Nihon Karate-do Kai diciptakan tahun 1931. Tidak lama setelah itu, organisasi tersebut berganti nama menjadi Nihon Karate-do Lai dan menjadi tempat awal mula Shito-Kai modern. Banyak anggota yang berpartisipasi dalam Dai Nihon Karate-do Kai, adalah murid-murid langsung dari Kanwa Mabuni. Dewasa ini, mereka membentuk (kernel) Shito-Kai di federasi Karate-do dan terus mengajarkan seni beladiri ciptaan Kenwa Mabuni kepada murid-muridnya.

Setelah Perang Dunia II, Klub Karate-do mulai dibuka satu persatu di sekolah dan universitas. Mereka mengatur diadakannya turnamen dan menyiapkan Kejuaraan Nasional Jepang. Selama masa-masa sulit pada tahun-tahun setelah perang, Mabuni membantu membangun kembali Jepang dengan mendedikasikan dirinya pada pengembangan dan penyebaran Shito-ryuu Karate-do. Tetapi, sayangnya dia tidak memilki kesempatan untuk melanjutkan rencana beliau, karena beliau, karena beliau meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 1952.

Karate-do Shito-ryuu, diciptakan oleh Kenwa Mabuni, menggabungkan Shuri Karate dari Master Itosu dan Naha Karate dari Master Higaonna. Nama Shito-ryuu diambil dari kanji nama depan kedua master ini (“ito”, kanji Cina kuno “Shi”; “Higa”, kanji Cina kuno “To”).

Saat mengajarkan pada murid-murinya dan menjelaskan perbedaan dasar Itosu dan Higaonna, Kenwa Mabuni memberikan sebagian besar perhatiannya pada Kata. Dia percaya, dengan menggabungkan teknik menyerang dan bertahan, adalah bagian terpenting dari Karate. Adalah sangat penting untuk mengerti makna dari setiap gerakan dalam Kata dan untuk melakukan gerakan itu dengan benar. Kenwa Mabuni adalah yang pertama kali memperkenalkan konsep Kumite Bunkai dan Hokei, yang mendemostrasikan tujuan dan menunjukkan penggunaan yang benar untuk setiap Kata. Hasil akhir latihan Kata dan Kumite adalah kemampuan untuk menerapkan teknik Karate-Do saat Kumite bebas. Mempraktekkan Kata juga membantu metransfer pengetahuan yang terkandung dalam Kata kepada generasi selanjutnya. Karate Shito-ryuu, tidak seperti aliran lainnya, mempunyai lebih banyak “Kata”.

According to Kenwa Mabuni the student, ignoring Kata and practicing only Kumite, will never progress in Karate-Do and will never understand its meaning.

Menurut Kenwa Mabuni, jika seorang murid, mengabaikan Kata dan hanya melatih Kumite, maka tidak akan berkembang dalam karate-do, dan tidak akan pernah mengerti makna Karate.

Pusat Nihon Karate-do Kai adalah wilayah Kansai (Jepang barat). Karena usaha dari Manzo Iwata (salah satu murid terbaik Kenwa Mabuni dan salah satu anggota dewan Federasi Karae-do Shiro-Kai Jepang di masa depan) cabang timur yang berlokasi di Tokyo, dibentuk pada November 1960. Pada tahun yang sama anak laki-laki Kenei Mabuni mendirikan Cabang barat yang berpusat di Osaka. Keduanya menyelenggarakan kejuaraan sendiri sampai tahun 1964, saat kejuaraan Shito-Kai yang diselenggarakan bersama untuk pertama kalinya diadakan. Bulan Oktober tahun yang sama, Federasi Karate-do dibentuk. Februari 1973, Cabang barat bergabung, membawa pada terbentuknya Federasi Karate-Do Shito-Kai Jepang.

Sekolah Karate-Do Shito-Kai memulai aktivitas internasionalnya. Master-master Karate-Do dikirim ke Asia, Amerika Latin, Amerika Serikat dan Eropa. Perwakilan resmi dari berbegai negara berkumpul di Meksiko City pada November 1990 untuk mendiskusikan perkembanga Karate-Do di dunia dan pembentukan Federasi Karate-Do Shito-ryu Internasional. Masalah yang sama juga didiskusikan di Havana selama Kejuaraan Pan-American karate-do Shito-kai yang pertama. Dan akhirnya, pada 19 Maret 1993, Federasi Shito-ryu Karate-do Dunia yang berpusat di Tokyo telah diresmikan, dengan Manzo Iwata sebagai presidennya. Perwakilan Resmi dari 28 negara ikut ambil bagian dalam Kejuaraan Karate-SD Shito-Ryu World Dunia pertama.

Selasa, 25 Oktober 2011

About Karate

Sebuah teori mengatakan bahwa asal mula karate berasal dari ilmu bela diri Okinawa. TE atau OKINAWA-TE adalah seni bela diri asli setempat yang telah mengalami perkembangan berabad-abad lamanya, dan kemudian banyak dipengaruhi oleh teknik perkelahian yang dibawa oleh para ahli seni bela diri Cina yang mengungsi ke Okinawa. Sekitar Abad ke5, seorang pendeta Budha yang terkenal bernama Bodhidharma (Daruma Daishi) mengembara dari India ke Cina untuk menyebarkan dan membetulkan agama Budha yang menyimpang selama ini di Kerajaan Liang di bawah Kaisar Wu. Setelah perselisihannya dengan Kaisar Wu karena perbedaan pandangan dalam ajaran agama Budha, Bodhidharma mengasingkan diri di biara Shaolin Tsu di pegunungan Sung di bagian Selatan Loyang Ibukota Kerajaan Wei. Di situlah dia melanjutkan pengajarannya dalam agama Budha dan menjadi cikal-bakal Sekte Zen.
Para Rahib Budha Cina pada waktu itu begitu lemah badannya, sehingga mereka tidak dapat menjalankan pelajaran-pelajarannya dengan baik. Setelah dia tahu hal ini, dia memberikan Buku Kekuatan Fisik kepada murid-muridnya, suatu buku petunjuk mengenai latihan fisik. Buku ini mengajarkan teknik pukulan yang dinamakan 18 Arhat, yang kemudian menjadi terkenal sebagai Shaolin Chuan. Suatu pendapat lain mengatakan, bahwa cerita di atas tadi adalah dongeng semata-mata. Bagaimanapun juga Bodhidharma adalah anak laki-laki ke-3 (tiga) dari Raja India Selatan. Dan sebagai Pangeran, dia ahli ilmu perang yang menjadi salah satu pendidikannya, hal serupa dengan Sakyamuni. Lagi pula hanya orang dengan pikiran dan badan yang kuat yang dapat mengadakan perjalanan yang demikian jauh dan banyak rintangannya.
Seorang ahli ilmu bela diri lain yang sangat terkenal yang muncul pada jaman Dinasti Sung (920-1279 M) adalah Chang Sang Feng (Thio Sam Hong). Awalnya Chang belajar ilmu bela diri pada Shaolin Tsu , kemudian mengasingkan diri di gunung Wutang (Butong). Di tempat inilah dia mengamati macam-macam gerakan binatang, seperti kera, burung bangau, dan ular. Berdasarkan pengamatannya, dia menciptakan gaya perkelahian yang khas dengan pribadinya yang disebut aliran Wutang. Kalau Shaolin Chuan hanya dipraktekkan oleh para Pendeta Budha, maka aliran Wutang ini diperuntukkan orang awam yang tidak ada ikatan dengan aliran Kuil manapun. Chang mengaja rkan supaya menerima pukulan lawan dengan gaya lemah gemulai seperti air yang mengalir dan menyerang dengan satu kepastian untuk mengakhiri perlawanan dengan sekali pukul. Ciptaannya didasari dengan gagasan tentang harus adanya gerak melingkar yang luwes dan gerakan ujung yang tajam. Aliran ini selanjutnya punya dampak yang luas di dalam perkembangan seni bela diri di China. Gaya aliran Wutang ini segera tersebar merata di seluruh Wilayah China bagian utara yang pada masa kemudian akan berkembang menjadi Taichi-Chuan, Hsingi-Chuan, dan Pakua-Chuan.
Masih terdapat banyak tokoh seni bela diri yang menciptakan gaya dan aliran masing-masing. Diantaranya Chueh Yuan yang juga pernah belajar di Shaolin Tsu. Pada tahun 1151-1368 M dia berhasil menciptakan aliran baru dengan cara memperluas 18 pukulan Arhat menjadi 72 jurus. Dia berkeliling ke banyak Wilayah China dan kemudian bertemu dengan Po Yu Feng yang menciptakan pukulan Wu Chuan. Keduanya mengadakan kerjasama menciptakan satu aliran baru yang mencapai 170 macam gaya ilmu pukulan, diantaranya Lima Tinju, Tinju Naga, Tinju Harimau, Tinju Bangau, Tinju Macan Tutul, dan Tinju Ular. Di seluruh Wilayah CIna yang begitu luas, berbagai macam gaya dan aliran bela diri dikembangkan, yang akhirnya menyesuaikan diri deng an sifat-sifat lingkungan di mana gaya dan aliran itu berkembang dan dipraktekkan. Namun pada umumnya, berbagai aliran dan gaya yang ada dapat dibagi menjadi dua aliran yaitu aliran UTARA dan aliran SELATAN.
Aliran Selatan berasal dari daerah Cina Selatan di bagian hilir sungai Yang Tse. Karena beriklim sedang, sumber kegiatan ekonomi yang paling utama di wilayah ini adalah pertanian khususnya beras. Rakyat setempat cenderung bertubuh gempal dan kuat karena kegiatan kerja di sawah. Disamping itu di wilayah selatan terdapat banyak sekali sungai, sehingga alat lalu lintas yang utama adalah perahu. Dengan mendayung sehari-hari menyebabkan badan bagian atas lebih berkembang. Maka dengan demikian aliran selatan ini menekankan pada gaya melentur dan penggunaan tangan dan kepala.
Aliran Utara berkembang di wilayah Cina Utara di bagian hulu Sungai Yang Tse, dimana sifat daerahnya adalah pegunungan. Mengingat di wilayah ini banyak orang terlibat dengan perburuan binatang dan penebangan kayu sebagai sumber nafkah. Maka aliran utara ini lebih menekankan pada gerakan yang lincah dan penggunaan teknik tendangan.
Selama masa peralihan dari Dinasti Ming ke Dinasti Ching, sejumlah ahli bela diri China melarikan diri ke negara lain untuk membebaskan diri dari penindasan dan pembunuhan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Manchu yang menguasai China. Sebagai akibatnya ilmu bela diri China dari Jaman Ming ini disebarkan ke berbagai negara lain termasuk ke Jepang, Korea, Asia Tenggara, dan juga Kepulauan Okinawa. Salah seorang diantaranya Chen Yuan Pao yang menuju ke Jepang, dimana dia selanjutnya mengajarkan gagasan dan teknik Judo. Sampai pada abad ke-15 Kepulauan Okinawa terbagi menjadi 3 (tiga) Kerajaan. Dan pada tahun 1470 Youshi Sho dari golongan Sashikianji berhasil mempersatukan semua pulau di Kepulauan Okinawa di bawah kekuasaannya. Penguasa ke-2 dari golongan Sho, yaitu Shin Sho, menyita dan melarang penggunaan senjata tajam. Kemudian Keluarga Shimazu dari Pulau Kyushu berhasil menguasai Kepulauan Okinawa, tetapi larangan terhadap pemilikan senjata tajam masih terus diberlakukan. Sebagai akibatnya, rakyat hanya dapat mengandalkan pada kekuatan dan ketrampilan fisik mereka untuk membela diri.
Pada saat yang sama, ilmu bela diri dari Cina mulai diperkenalkan di Okinawa melalui para pengungsi yang berdatangan dari Cina yang saat itu sudah dikuasai oleh bangsa Manchu (Dinasti Ching). Diantara para pengungsi itu ada sejumlah ahli seni bela diri dari China. Pengaruh ilmu bela diri dari China ini dengan cepat sekali menjalar ke seluruh Kepulauan Okinawa. Melalui ketekunan dan kekerasan latihan, rakyat Okinawa berhasil mengembangkan sejenis gaya dan teknik berkelahi yang baru yang akhirnya melampaui sumber aslinya. Aliran-aliran seni bela diri Te (aslinya Tode atau Tote) di Okinawa terbagi menurut nama daerah perkembangannya menjadi Naha-te, Shuri-te, dan Tomari-te. Naha-te mirip dengan seni bela diri Cina aliran selatan, khususnya dalam pola gerakan yang dilaksanakan dengan gaya yang kokoh dan sangat tepat bagi orang yang bertubuh besar. Shuri-te mirip dengan seni bela diri Cina aliran utara yang pola gerakannya lebih menekankan kegesitan dan keringanan tubuh. Sementara kaum Shimazu makin memperketat larangan atas pemilikan senjata tajam, latihan pola bela diri Te ini makin berkembang.
Di Jepang sendiri juga telah ada pola bela diri sejak jaman dulu. Diantaranya yang sangat terkenal sampai saat ini ialah gulat Sumo. Dahulu Sumo sifatnya sangat keras dan ganas, dimana para pesertanya diperbolehkan saling pukul dan tenda ng dan secara mental memang sudah siap mati. Baru pada abad ke-8, pukulan dan tendangan yang mematikan tidak diperbolehkan lagi. Pertandingan Sumo kemudian sudah sangat mirip dengan pertandingan Sumo pada masa sekarang ini. Tokoh seni bela diri China yang mengungsi dari penjajahan bangsa Manchu juga tersebar ke seluruh Jepang. Berbagai macam gaya dan teknik yang mereka sebarkan menyebabkan timbulnya aliran-aliran baru. Di bawah pengaruh dan bimbingan Chen Yuan Pao, aliran Jiu Jitsu atau seni beladiri aliran lunak didirikan oleh beberapa tokoh beladiri Jepang. Konsep bahwa “Kelunakan dapat mengalahkan kekerasan” dinyatakan berasal dari China, dan aliran ini mengembangkan pengaruhnya yang penting pada pola bela diri lainnya. Diantaranya yang sangat populer ial ah Judo yang didirikan oleh Jigoro Kano.
Karena keuletannya untuk meneliti, melatih, dan mengembangkan diri, Judo telah berhasil diterima merata di seluruh Jepang sebagai satu cabang olah raga modern. Pada tahun 1923, Gichin Funakoshi yang lahir di Shuri, Okinawa pada tahun 1869 untuk pertama kalinya memperagakan Te atau Okinawa-Te ini di Jepang. Berturut-turut kemudian pada tahun 1929 tokoh-tokoh seperti Kenwa Mabuni, Choyun Miyagi berdatangan dari Okinawa dan menyebarkan karate di Jepang. Kenwa Mabuni menamakan alirannya Shitoryu, Choyun Miyagi menamakan alirannya Gojuryu, dan Gichin Funakoshi menamakan alirannya Shotokan. Okinawa Te ini yang telah dipengaruhi oleh teknik-teknik seni bela diri dari Cina, sekali lagi berbaur dengan seni bela diri yang sudah ada di Jepang, sehingga mengalami perubahan-perubahan dan berkembang menjadi Karate seperti sekarang ini. Berkat upaya keras dari para tokoh ahli seni bela diri ini selama periode setelah Perang Dunia II, Karate kini telah berkembang pesat ke seluruh dun ia dan menjadi olah raga seni bela diri paling populer di seluruh dunia. Masutatsu Oyama sendiri kemudian secara resmi mendirikan aliran Karate baru yang dinamakan Kyokushin pada tahun 1956.

BISNIS PULSA SEBAGAI TAMBAHAN PEMASUKAN TAMBAHAN SAAT KULIAH

Emmmmmmmm....sebagai mahasiswa yang saya akui adalah mahasiswa yang biasa-biasa saja,saya mencoba berfikir untuk mengubah hal ini sedikit demi sedikit,disamping aku ikut kegiatan mentoring agama dan karate ,aku juga coba-coba julan pulsa modal sendiri. Ide ini muncul ketika banyak pengeluaran yang harus dikeluarkan ketika kuliah dan sangat berbeda jauh dengan SMA. dalam jualan pulsa ini Alamdulilah dalam waktu singkat bisa mencukupi seenggaknya kebutuhan tambahan biaya beli buku dan lain sebagainya.
berikut adalah daftra rincian saya saat jualan pulsa secara umum
misal harga eceran 5ribu adalah 6000 ,misal minimal sehari ada teman kita yang beli yaitu 2 orang per hari
6000x2=12000
jika dihitung dalam waktu 5 hari
12000x5=60000
(dengan modal awal 50000)
hehehe.masih untung juga ya..Alhamdulilah.......